"Namamu River. Itu sebentuk doa. Agar nanti hidupmu seperti sungai, tahu kemana harus bermuara.


Aku mulai menulis ini ketika kau masih dalam perut ibumu. Duduklah, Nak, karena masih banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu. Ayah yang banyak bicara ini hanya ingin menunjukkan semacam rasa syukur untuk Sang Pemilik Hidup, dan juga ungkapan terima kasih untukmu.

Terima kasih, karena telah lahir melalui kami...."


Thursday, October 21, 2010

Tangan dan Jari-Jarinya

Dua hari yang lalu, Nak, seorang wanita datang ke kantor. Pagi-pagi, dia sudah duduk di kursi dekat ruang tamu saat aku datang, menginput absensi dan meluncur menuju kubikal tanpa memperhatikannya. Tadinya aku pikir dia tamu yang ada perlu dengan kru program lain.

Baru ketika lewat lagi, sekuriti memberitahu bahwa dia mungkin mencariku.

Aku lalu menghampirinya dan mengajaknya pindah ke ruang kaca tempat menerima tamu. Dia tersenyum dan dengan sigap berdiri. Wanita berkerudung panjang itu bertubuh mungil, nyaris hanya setengah tinggi badanku. Dan dari caranya melangkah aku bisa menebak ada yang berbeda dengan kakinya.

Dia menyebut namanya Paini, dan dia bilang pagi tadi melihat temannya di televisi. Iya, itu program yang aku kerjakan 6 bulan belakangan ini. Program yang nyaris tak pernah memenuhi harapan pemilik modal karena rating share-nya kecil. Program yang kata bos membebani organisasi.

"Saya mau tahu alamat ibu yang di tayangan tadi pagi itu, Mas. Ada teman saya yang bekerja di situ. Teman di RC," katanya mengutarakan maksud kedatangannya. RC itu Rehabilitation Centrum, sebuah lembaga sosial di Solo yang menampung orang yang memiliki keterbatasan fisik. Orang umum menyebutnya penyandang cacat. Orang yang sedikit lebih peka menyebutnya difable, atau differently abled people --ada juga yang menyebutnya different ability.

Teman Ibu Paini itu bernama Guntur dan bekerja di Yayasan Tiara Handicraft di Surabaya. Tiara Handicraft ini dijalankan oleh Bu Titik Winarti, seorang pengusaha dengan visi yang unik. Bu Titik menampung dan mempekerjakan sekitar 45 orang penyandang cacat di rumahnya. Dibantu para karyawannya, Bu Titik membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti tas, dompet, atau baju. Bu Titik mempekerjakan para penyandang cacat karena alasan idealisme. Bu Titik yang terlahir normal merasa perlu berbuat sesuatu untuk membantu mereka yang sering termarjinalkan dalan sistem ekonomi dan sosial. Hitungan Bu Titik pun tak akan pernah diamini oleh pengusaha konvensional yang hanya mengejar laba. Usaha yang dijalankan Bu Titik ini lebih sering merugi karena biaya operasional membengkak, namun ajaibnya masih tetap bertahan sampai sekarang.



"Saya ingin belajar dari Bu Titik, Mas. Makanya saya ke sini, mau tahu bagaimana cara menghubungi dia," kata Bu Paini.

Di rumahnya di Bekasi, Bu Paini juga melakukan apa yang dilakukan Bu Titik, walau dalam skala yang lebih kecil.

"Adik-adik saya baru lima orang, belum ada apa-apanya dibanding Bu Titik itu," katanya merendah. Lima orang yang dia sebut adik itu semuanya adalah karyawannya, penyandang cacat juga. Bu Paini bercerita tentang Neneng, seorang perempuan tanpa kaki yang ia ajarkan menjahit.

Tak butuh waktu lama, Bu Paini bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Atas bantuan Mawar yang meliput ke Surabaya itu, Bu Paini memperoleh alamat lengkap dan nomer telepon Bu Titik. Bu Paini lalu pamit, dan dengan sumringah dia menyalami kami. Lalu aku lihat, tak hanya kakinya yang bengkok, jari tangannya pun pendek seperti jari tangan anak kecil. Itulah yang membuat dirinya berada di Rehabilitation Centrum beberapa tahun yang lalu.

Ini cerita yang lain lagi, Nak. Kemarin, kawanku pulang bawa cerita. Tentang Pak Agus. Pak Agus Yusuf nama lengkapnya. Dia seorang pelukis yang tinggal di Madiun. Dengan ketekunan dan kerja keras, Pak Agus bisa menjual lukisan-lukisannya. Beberapa lukisannya bahkan dikoleksi oleh sebuah yayasan internasional. Dari hasil menjual lukisan-lukisannya itu, Pak Agus bisa menabung untuk mendirikan toko besi dan bahan bangunan. Setiap hari, jika tidak sedang melukis, Pak Agus mengendarai motor pulang pergi ke tokonya.

Ada lagi, Nak. Masih cerita yang dibawa pulang kawanku itu. Pak Prayitno namanya. Dia ini seorang penjahit, dan tentu saja dia mahir membuat pola atau memasukkan benang ke lubang jarum. Pak Prayitno punya istri dan anak yang harus dia nafkahi. Selain menjahit, Pak Prayitno juga bisa memperbaiki sepeda atau menambal ban.

Apa yang istimewa dari Pak Agus dan Pak Prayitno adalah karena mereka berbeda dengan kita, Nak. Pak Agus tak memiliki lengan sama sekali --dia melukis dengan mulut dan kakinya, sementara Pak Prayitno tak memiliki jari tangan.

==
Anakku River, pernah beberapa kali, ibumu lupa memotong kukumu, sehingga memanjanglah ia. Beberapa kali kami juga kena cakar olehmu. Pernah suatu kali, mata sebelah kiri ibumu memerah karena kamu colok. Kami sudah lama tidak pernah kena serangan mendadak seperti itu, jadi sesekali, jujur saja, kami -terutama aku--, Nak, kaget dan segera menjauhkan tanganmu.

Maafkan aku, Nak.

Kemarin, setelah bertemu Bu Paini dan mendengar cerita tentang Pak Agus dan Pak Prayitno, pengen nangis rasanya, Nak. Bukan apa-apa, rasanya memang lemah sekali ingatan kami ini. Gampang lupa pada nikmat yang datang. Padahal masih terasa betapa bahagianya ketika pertama kali melihat jari-jari mungilmu itu hampir delapan bulan lalu. Betapa syukur kami karena kamu lahir tak kurang suatu apa pun. Dan kini kami tiba-tiba sering gampang kesal hanya karena kukumu menggores kulit wajah kami, atau tanganmu melempar-lempar sayuran kukus dari high chair-mu.

Ya Allah... Nak, ada orang yang melukis dengan mulut karena tak punya tangan, ada orang yang setengah mati memasukkan benang ke lubang jarum karena tak punya jari-jari tangan.
Tapi ada juga orangtua yang tega memukul tangan anaknya karena sang anak tak sengaja menjatuhkan vas bunga mahal miliknya.
Itu bukan kami, Nak. Dan tak akan pernah menjadi kami.

No comments:

Post a Comment