"Namamu River. Itu sebentuk doa. Agar nanti hidupmu seperti sungai, tahu kemana harus bermuara.


Aku mulai menulis ini ketika kau masih dalam perut ibumu. Duduklah, Nak, karena masih banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu. Ayah yang banyak bicara ini hanya ingin menunjukkan semacam rasa syukur untuk Sang Pemilik Hidup, dan juga ungkapan terima kasih untukmu.

Terima kasih, karena telah lahir melalui kami...."


Friday, July 30, 2010

"Kids Will Be Kids"

Anakku River, sering jika bisa pulang lebih cepat, aku suka singgah di studio di lantai 1 bila di situ ada keramaian. Dan memang hampir selalu ada ramai setiap hari. Mulai dari acara-acara musik live hingga variety show. Apalagi belakangan ini, hampir tiap Sabtu atau Minggu kalau kebetulan harus ngantor di hari itu, aku tak langsung pulang. Aku suka singgah menonton Brandon, Fay, dan JP Millenix. Bahkan sering aku sudah menongkrongi bangku paling belakang di studio 1 itu pada hari Jumat malam. Pada saat itu mereka biasanya ada reherseal atau gladi resik untuk penampilan esok hari.
Aku suka melihat mereka bercanda di sela-sela latihan. Tiga anak peserta talent show Indonesia Mencari bakat (IMB) itu memang lucu-lucu. Pernah aku lihat Brandon membantu Fay melatih handstand-nya, begitupun sebaliknya. Atau tiba-tiba Brandon berlari ke drumset JP dan memukuli semua perangkat yang ada di situ saat JP sedang mendengar pengarahan dari director. Lucu. Mereka tetaplah anak-anak, betapapun mereka terlibat begitu kuat dalam bisnis orang dewasa ini.

Dan di saat-saat seperti itulah, aku selalu mengingatmu dan membayangkan seperti apa kelak kamu akan tumbuh, Nak. Kelak akan cukupkah gizimu hingga tulang-tulangmu kuat seperti Brandon dan Fay? Atau apakah aku akan punya cukup uang untuk membelikanmu drumset seperti punya JP itu? Mengawang-awang ya? Tapi begitulah, Nak. Namanya ayah, pasti selalu ingin membuat anaknya bahagia.

Suka atau tidak, sejak kamu hadir, aku jadi lebih gampang tersentuh, gampang terharu setiap kali melihat anak kecil. Anak kecil yang bahagia atau menderita. Sering tanpa tahu alasannya, tiba-tiba terasa seperti ada yang menyentak di hati. Pernah, aku bahkan tak mau lagi menonton berita kriminal yang korbannya anak-anak. Gak tega rasanya, Nak.

Bahkan hingga ke hal-hal yang mungkin menurutmu sepele. Suatu sore sepulang liputan, aku melihat seorang anak kecil –umurnya mungkin sekitar 5-6 tahun, duduk di pinggir jalan. Di sebelahnya berderet jaket-jaket yang aku duga sebagai dagangan orangtuanya. Tapi aku tak melihat ayah atau ibunya, hanya ada si bocah laki-laki itu sendirian di situ. Mungkin mereka sedang ada perlu dan meminta si anak itu menjaga dagangan. Dan seperti yang aku bilang tadi, Nak, rasa sesak yang tak tahu apa namanya itu muncul lagi. Seolah-olah aku bisa merasakan kepedihan dan kesendirian anak itu, hanya dari melihat caranya duduk berjongkok sambil mempermainkan sesuatu di dekat kaki kirinya. Tak peduli dia pada arus lintas lintas yang seperti beterbangan di depannya. Dan rambutnya yang jingkrak itu, Nak, persis rambutmu ketika kamu baru lahir. Tiba-tiba aku ingin cepat pulang dan memelukmu. Memelukmu dan berjanji akan melindungimu dari kenyataan hidup yang paling pahit. Semampu tanganku. Karena ini aku seorang ayah, dan kamu akan tetap menjadi seorang anak, bahkan ketika kelak badanmu sudah lebih tinggi dari aku.

Aku punya seorang teman yang sebentar lagi akan menikah. Saat akan mengunjungi orangtuanya yang tinggal berlainan kota, dia menulis di status FB-nya kira-kira begini: ini kepulanganku yang terakhir sebagai seorang anak. Maksudnya tentu saja bahwa setelah ini dia bukan lagi sekadar seorang anak, dia akan menjadi istri dari seseorang. Kira-kira begitu. Tapi kakaknya yang marah-marah tidak sepakat dengan kalimat itu dan menyuruhnya menghapusnya. Dalam konteks yang terbatas, aku sepakat dengan kakaknya itu. Bagaimanapun kondisi kita, kita tidak akan pernah berhenti menjadi anak.

====

Tadi sore aku bertemu seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Umurnya sepantaran ibuku. Ibuku lahir tahun 1951, dan ibu yang aku ceritakan padamu ini lahir tahun 1952. Anak yang dia sayangi itu mungkin juga sepantaran aku sekarang, seandainya dia masih hidup. Bernardinus Realino Norma Irmawan namanya, biasa dipanggil Wawan. Wawan tewas tertembak pada tanggal 13 November 1998 dalam sebuah peristiwa kaostik yang kita kenal sebagai Tragedi Semanggi 1. Dan sang ibu, Maria Catarina Sumarsih, nyaris tak sehari pun luput menziarahi makam anaknya. Setiap hari, setelah 12 tahun berlalu, Ibu Sumarsih datang menegok dan merawat makam Wawan.

Tadi itu, Nak, adalah hari Kamis ke-170 Ibu Sumarsih berdiri di depan Istana Merdeka, tempat presiden kita, Pak Beye, biasa bekerja mengurusi hal-hal yang dia anggap penting. Bu Sumarsih bersama belasan keluarga korban pelanggaran HAM kembali mendatangi halaman Istana Merdeka dan berdiri berjajar selama kurang lebih 1 jam. Berdiri saja. Karena dilakukan setiap hari Kamis, aksi diam ini dinamakan Aksi Damai Hitam Kamisan atau Aksi Kamisan. Tak peduli hujan atau terik, Bu Sumarsih datang membawa payung hitam, berpakaian hitam, dan berdiri menatap ke arah Istana Merdeka yang dijaga tentara. Sudah 170 hari Kamis Bu Sumarsih tak berhenti memperjuangkan keadilan atas anaknya yang mati terbunuh. Bersama Bu Sumarsih, belasan keluarga korban lain juga menuntut keadilan dan menolak impunitas terhadap para pelaku kejahatan dalam kasus Tanjungpriok 1984, Talangsari, Mei 1998, Pembunuhan Munir 2004, dan berbagai kejahatan kemanusiaan di masa lalu yang tak kunjung diadili.

Aksi Kamisan ini dimulai pada tanggal 18 Januari 2007, terinpirasi oleh gerakan yang sama di Argentina. Pada suatu sore di tahun 1977, sekelompok ibu-ibu dengan kerudung kepala berwarna putih mendatangi Istana kepresidenan Argentina di Buenos Aires. Di depan istana kepresidenan Argentina, di sebuah plaza bernama Plaza de Mayo, para ibu itu berdiri diam. Dalam diam itu mereka menyampaikan protes atas hilang dan terbunuhnya anak-anak mereka oleh kekejaman junta militer Argentina saat itu. Dan aksi ini terus berlangsung selama lebih dari 30 tahun, dan ibu-ibu yang melakukan aksi itu akhirnya terkenal ke seluruh dunia dengan nama Asociacion Madres de Plaza de Mayo atau Ibu-Ibu Plaza De Mayo.

Setelah kurang lebih sejam berdiri, Bu Sumarsih, pensiunan pegawai negeri sipil itu, menyudahi aksinya hari ini. Aku membantunya menggulung kain hitam berisi foto-foto korban yang tadi digelar dekat kakinya. Aku sempat bertanya, apa yang membuatnya begitu kuat menjalani aksi protes ini. 170 kali berdiri di depan Istana Merdeka tanpa mendapat perhatian, bahkan lebih sering dianggap seperti “orang gila”, bukanlah pekerjaan sepele. Hanya orang kuat yang bisa melakukannya.
Dan jawabannya hanya satu kata. Satu kata yang mungkin sudah berhamburan kita umbar kepada puluhan pria atau wanita sehingga nyaris tak bermakna lagi. Cinta.

Bagi Ibu Sumarsih, betapapun sang anak telah gugur belasan tahun yang lalu, tak ada yang berubah. Wawan tetap seorang anak baginya. Seorang anak yang berhak mendapatkan limpahan cintanya.

Melihat matanya yang lembut dan rambutnya yang memutih itu, aku kembali dibuat percaya pada sebuah hal yang tanpa sadar sering terlupa. Aku dan Bu Sumarsih beda agama, tapi kami satu "keyakinan", keyakinan pada kekuatan cinta seorang ibu.

Dan tiba-tiba aku rindu ibuku, Nak. Rindu sekali.

Thursday, July 22, 2010

Pundak Seorang Ayah

Ketika seorang anak lahir, seorang ayah biasanya akan merasa ada yang berubah dengan bentuk fisiknya. Mereka mungkin merasa perutnya bertambah buncit atau matanya semakin cekung. Banyak juga ayah yang merasa pundaknya bertambah lebar. Ada yang kiasan, ada pula yang harafiah.

Aku ingin sampaikan kepadamu sebuah cerita, Nak.
Ada seorang ayah, namanya Pak Sodik, dia seorang pedagang mainan di sebuah desa di Ciater, Subang, Jawa Barat. Setiap hari, Pak Sodik berjalan kaki berkeliling kampung sejauh 7 kilometer menjajakan mainan-mainan murah seharga seribu dua ribuan. Mainan itu dipanggul di pundaknya, berganti-ganti pundak kiri dan kanan semana yang lelah. Keuntungan berjualan yang tak seberapa itu lalu dikumpulkannya untuk membiayai kuliah anaknya. Anak tertuanya, Ina, sedang melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bandung.

Selain berjualan mainan, Pak Sodik juga bergabung dengan sebuah grup sisingaan. Grup kesenian itu biasa ditanggap di acara sunatan anak-anak di kampungnya. Pak Sodik dan teman-temannya memanggul semacam patung singa yang akan dinaiki anak-anak yang baru saja disunat. Mereka biasanya diarak keliling kampung. Bayangkan, Nak, sungguh berat beban yang ditanggung pundak Pak Sodik mengingat betapa montoknya anak-anak sekarang.
Dari setiap panggilan pentas sisingaan ini, dia bisa membawa pulang duapuluh hingga tigapuluh ribu rupiah.

Belum cukup itu, Nak. Untuk membiayai Ina dan seorang lagi anaknya, Pak Sodik dan istrinya juga menjadi buruh tani di ladang milik orang lain. Di situ, Pak Sodik menanam dan merawat tanaman mentimun yang bisa dipanen setiap tiga atau empat bulan dan hasilnya dibagi dengan pemilik ladang.

Pak Sodik sungguh bekerja keras. Dia tidak ingin Ina putus sekolah. Setamat SMP, Ina hampir tidak bisa melanjutkan ke bangku SMU karena ketiadaan biaya. Tapi Pak Sodik tak ingin menyerah. Dia panggul kotak mainan jualannya. Dia taruh sisingaan itu di pundaknya sampai lecet. Dia biarkan kulitnya legam dibakar matahari. Dan tak sedikit pun dia mengeluh. Dia contoh ayah yang baik.

Aku banyak mengenal sosok ayah yang baik, Nak. Berjuang mati-matian untuk anaknya. Ada seorang ayah, di perbatasan antar negara, membiarkan dirinya setiap hari jadi incaran tembakan, demi anak-anaknya. Ada seorang ayah, Nak, di sebuah ladang pengeboran, membiarkan dirinya menjadi licin oleh lumpur bercampur minyak, demi anak-anaknya. Ada seorang ayah, Nak, jadi tipis paru-parunya digempur angin setiap malam, demi anak-anaknya.

Ada seorang ayah, Nak, pagi-pagi dia ke pasar, membeli ikan untuk digoreng dan kemudian dikirimkan kepada anak-anaknya yang sedang kuliah di luar kota. Dan anaknya tanpa sengaja membiarkan lauk kiriman itu dibawa lari kucing. Sang ayah tak tahu kejadian itu hingga dia wafat beberapa tahun berselang. Dan sang anak merasa bersalah bukan main.
Ayah yang terakhir itu adalah bapakku, Nak.


Aku punya foto Bapak menggendongku waktu kecil. Bapak berdiri dekat Vespa-nya. Gagah bukan main. Tangannya yang kekar melingkariku, menunjukkan betapa dia ingin selalu melindungiku. Pundaknya lebar, hasil bekerja dan bertualang bertahun-tahun.
Ingin aku punya pundak seperti itu.
Maka sering malam-malam aku bercermin, memeriksa apakah pundakku sudah bertambah lebar setelah seharian bersepeda atau mengangkat barbel. Tapi tak bertambah lebar juga rupanya.
Padahal keren juga kalau bisa begitu. Apalagi kalau menggendongmu dengan Deuter Kid Comfort yang baru aku belikan untukmu itu, Nak. Wuih!!

Tapi begitulah, River. Ternyata menjadi ayah itu bukan melulu soal punya pundak kuat atau tidak. Yang lebih penting adalah seberapa ikhlas seorang ayah ingin mendukung anaknya di atas pundaknya, dan membiarkan sang anak melihat apa yang tidak bisa si ayah lihat di ketinggian itu.
Karena bila ukurannya hanya pundak kuat dan lebar, maka yakinlah, Ade Rai adalah ayah yang paling top di dunia ini.

Saturday, July 17, 2010

Sematjam Kasih Sayang

Pagi itu, Nak, ibumu mengayuh sepedanya ke kantor dengan mata basah. Itu hari pertamanya kembali bekerja setelah cuti melahirkanmu. Laju sepeda lipat Dahon itu pasti terasa berat di kakinya. Aku tahu. Itu hari yang berat. Kami harus membangunkanmu pagi-pagi , dan kau masih tertidur ketika akhirnya kamu sampai di tempat penitipan anak. Dan kami pun merasa ini bukan sesuatu yang cukup benar.
Sehingga kami –terutama ibumu-- sampai pada keputusan itu. Cukup satu hari itu saja kamu lepas dari gendongan kami. Bukan apa-apa, Nak. Sama sekali bukan pengorbanan. Hanya tanda cinta. Ibumu memutuskan berhenti dari pekerjaannya karena cintanya padamu yang mustahil terukur. Dia bukan lagi jurnalis. Padahal, demi Allah, ibumu sangat mencintai pekerjaannya itu. Tapi dia jauh lebih mencintaimu, Nak.

#
Ketika menikah dulu, banyak yang bertanya, kenapa kami mencantumkan lirik lagu di undangan pernikahan kami, dan bukannya doa pernikahan Fatimah Zahra atau ayat suci Al-Quran sebagaimana lazimnya orang-orang. Kami tidak banyak menjawab, hanya sesekali berkelakar bahwa orang pasti akan tetap mendoakan kami tanpa harus tercetak di undangan. Dan begitulah ceritanya sehingga engkau melihat ada lirik lagu The Panasdalam di undangan pernikahan kami. Aku meminta izin kepada Kang Pidi Baiq, vokalis band The Panasdalam, untuk menggunakan lirik lagu karangannya itu.

Semacam kasih sayang
yang kuberikan padamu
meski tidak sehebat matahari untuk dunia

inipun kasih sayang
yang kuikhlaskan kepadamu
meski tidak semewah sebagaimana orang lain

hanyalah kepadamu
selalu kepadamu

inilah kasih sayang
yang kupasrahkan kepadamu
dengan tanpa peduli bagaimana engkau membalas..

Karena kami memang tidak punya apa-apa waktu itu, Nak. Hanya kasih sayang yang bisa kami ikhlaskan satu sama lain. Seperti yang kami punya untukmu kini.

Kasih sayang dan tuturkata yang lembut, Nak, insya Allah akan menyelamatkan kita melewati hari-hari yang keras sekalipun. Dan beruntunglah kita dianugerahi wanita yang memiliki itu semua. Seorang wanita yang bahkan kepada binatang pun dia sangat peduli. Ibumu itu, Nak, pernah menegurku karena aku berjalan tak hati-hati sehingga seekor kecoak terinjak tanpa sengaja...

#
Sore tadi, kamu menemani ibumu ke (bekas) kantornya, mengosongkan loker dan membawa pulang benda-benda pribadinya yang mungkin masih tertinggal. Itu juga bukan saat yang mudah, apalagi bagi orang bertipe sanguin koleris seperti ibumu. Itulah tipe orang yang menghargai setiap pengalaman. Bagaimanapun juga, kantor itu telah menempanya menjadi kuat. Menjadi lebih kuat untuk melakoni pekerjaan lain, pekerjaan terberat di kolong langit ini:
menjadi ibu penuh untukmu, dan memastikan dirinya selalu ada setiap saat kamu ingin menyusu.

Thursday, July 15, 2010

Dua CD Bagus

Suatu malam ketika melihatnya duduk sendirian, aku menghampirinya. Menyalaminya dan ikut duduk melantai bersamanya. Benar-benar di lantai, di bawah lemari kaca yang memajang banyak piala dan piagam. Beberapa kali aku lihat, dia memang suka duduk di situ. Mungkin dia merasa tidak cukup nyaman duduk di kursi. Tubuhnya memang tambun luar biasa, hampir dua kali lipat tubuhku.
Aku bilang, aku suka albumnya yang baru keluar, Tuhan Maha Dalang. Dia tersenyum dan mulai bercerita.
Dia sedang menunggu gilirannya tampil mengisi acara di salah satu program tengah malam. Sesekali, jika kami kehabisan bahan obrolan, dia memainkan okulele kecil berwarna hijau pudar miliknya.
"Banyak teman yang protes saya muncul di sini," katanya. Aku hampir mengiyakan. Aku sebenarnya juga tidak setuju. Seniman hebat seperti dia tidak sepantasnya diperlakukan seperti itu, menjadi bahan olok-olok.
Entah mengapa, ada rasa tidak rela. Beberapa kali aku memang melihat dua orang presenter yang merasa dirinya komedian itu mengeluarkan lelucon yang menurutku tidak pantas. Terakhir yang aku lihat sendiri, salah satu presenter acara itu mengolok-olok bulu hidungnya.

Mungkin aku salah. Mungkin dia memang tidak akan berada di situ jika bukan karena tubuhnya yang bisa menjadi bahan tertawaan. Barangkali memang tak ada yang peduli bahwa dia adalah seorang seniman istimewa, (mungkin) satu-satunya dalang suket yang ada di Indonesia.
"Menjadi dalang itu sering membuat kita merasa tinggi, sering ingin dihormati. Dengan muncul di sini saya mencoba melawan keinginan-keinginan seperti itu..." katanya yang segera membuatku terdiam.

Tak lama, seorang kru mendatanginya, memintanya untuk bersiap-siap. Aku menawarkan bantuan ketika dia mencoba berdiri. Kami berpisah tak lama setelah itu. Dia mengecek okulelenya, dan segera memakai kacamata plastik warna hijau seperti mainan anak-anak itu. Properti syuting yang sudah disiapkan untuknya.

Di bawah sorotan lampu dan kamera, dia mulai beraksi. Melihatnya memainkan wayang, membuatku memikirkan ulang apa yang tadi dia ucapkan. Bukan hanya dalang. Aku, seorang yang bahkan tidak menguasai satu alat musik pun, seringkali dihinggapi keinginan-keinginan seperti yang dia bilang. Ingin dianggap hebat, jago, dan sebagainya. Padahal sebenarnya tak ada juga yang bisa dibanggakan.

Dan rasanya aku tidak sendiri sebagai orang yang melulu ingin dimuliakan. Banyak orang yang baru punya kuasa tiba-tiba minta dihormati. Tak rela dia jika ada orang yang lebih tinggi hidungnya daripada dirinya. Baru punya kedudukan sedikit, kemana-mana minta dikawal voorrijder. Baru jadi anggota dewan, marah-marah dia jika tidak disambut ketika pulang kampung. Ada juga yang berlomba-lomba mengejar gelar, agar dianggap kerabat atau keturunan raja. Seolah-olah dia menjadi hina bila disamakan dengan orang biasa. Tidak cukup hanya menjadi VIP, kita ingin dicap sebagai VVIP atau bahkan VVVVVVVVVVVVIP.

Itulah manusia, Nak. Kepongahan adalah nama tengahnya. Karena merasa mulia, kita sering abai terhadap siapa pun yang kita anggap tidak penting. Harta, kedudukan, ketampanan, kecantikan, sering menggoda kita untuk membangun pagar imajiner yang memisahkan kita dengan sesama. Gak level! sering kita dengar orang-orang bilang begitu. Gak level, katanya, Nak. Seolah-olah kita ini tombol pengatur volume.

Suatu hari, Nak, kamu akan mendengar kisah seorang wanita yang nyaris tiap hari muncul di acara infotainment, mencibiri orang-orang yang dia gosipkan. Lalu Allah membalik keadaannya dengan seketika, dan membuatnya menjadi bahan gosip yang tak akan pernah orang lupakan. Begitulah cara Allah mengingatkan kita. Tak ada yang abadi, Nak.

Ada banyak kisah yang mengajarkan kita agar tidak tergelincir. Bahkan ketika kita merasa telah menjadi seorang ahli ibadah, tidak serta merta kita terbebas dari hukum kesombongan. Tadi sore, aku mendengarkan seorang guru bercerita. Tentang hadits Qudsi yang menggambarkan perjumpaan seorang hamba dengan Allah SWT. Sang hamba itu protes karena dia dimasukkan ke neraka padahal dia merasa telah cukup beribadah. Lalu Allah menunjukkan "kesalahan" sang hamba.

Jika suatu kali ada seorang yang sakit datang kepadamu dan engkau mengabaikannya, jika suatu hari ada orang miskin yang datang kepadamu dan engkau tidak mempedulikannya, jika suatu hari ada orang teraniaya yang datang kepadamu dan engkau tidak melapangkannya, maka engkaulah sang hamba yang diceritakan dalam hadits Qudsi itu.

Anakku River, kisah ini aku ceritakan kepadamu untuk kau ambil hikmahnya. Kamu masih muda, insya Allah kamu lebih mudah menerima anjuran. Berbeda dengan kami yang sudah tua ini. Lemak-lemak jiwa sudah menumpuk sedemikan gendut. Pintu hati kami nyaris sudah tertutup oleh nafsu dan keinginan dunia.
Tak seperti orang yang aku ceritakan di awal tadi, tubuhnya memang tambun, tapi jiwanya kesat dan tak berlemak. Namanya Slamet. Bila kamu sempat, dengarkanlah lagu dan syair-syairnya. Ada di kotak CD ayah.

Nak, ini cerita yang lain lagi. Seorang kawanku, yang baru pulang dari perjalanan bekerja, membawakan aku cerita ini. Ada seorang anak muda, dulunya dia gitaris band papan atas Indonesia. Penggemarnya bejibun. Lalu dia bertemu dengan sebuah buku yang mengubah hidupnya, judulnya "Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah". Setelah itu dia berhijrah. Dia keluar dari grup musik yang membesarkannya. Dia lalu berangkat khuruj ke Pakistan, India dan Irak. Setelah pulang, dia telah menjadi seseorang yang berbeda.

Dia tetap bermain musik, tapi kali ini musiknya berisi ajakan untuk mengingat Allah dan mencintai sesama. Sering, ketika mengajak orang untuk beribadah, dia menerima cibiran dan penolakan. Tentu beda rasanya, karena dulunya dia adalah orang yang disanjung-sanjung di atas panggung.
"Gak apa-apalah, kita kan mau belajar. Yang penting bagaimana supaya agama ini tidak direndahkan. Untuk diri sendiri direndahkan, gak papalah. Kita merasa bahwa penolakan itu menempa kita supaya sabar, istiqomah, supaya ikhlas.." begitu katanya.

Jadi begitu, Nak. Akan ada suatu masa kita menghadapi situasi dimana kita merasa direndahkan orang lain. Jika itu terjadi padamu. Ingatlah cerita ini. Tak perlu kita membalasnya dengan membuat diri kita seolah-olah lebih tinggi. Karena toh kita tidak tahu ukurannya. Kita hanya akan jadi balon yang terpompa berlebihan.

Adapun anak muda yang aku ceritakan belakangan ini, telah mengganti namanya menjadi Salman.
Mari kita dengarkan lagu dan syair-syairnya. Aku bawa pulang CD album terbarunya. Judulnya "Selamatkan". Aku pinjam dari teman yang baru pulang dari Jogja. Semoga dia lupa, dan kita punya dua CD yang bagus di kotak CD kita. :-)

Friday, July 9, 2010

Lagu River

namaku River
aku bikin sungai
di baju ayah.

kelak kubesar nanti
jangan doakan
aku bebas dari masalah
doakan aku
bisa mengatasinya
itu lebih baik.

jangan ajarkan aku
kaya bergelimang harta
cukup ingatkan
bila punya sesuatu
harus kubagi
dengan orang lain.

namaku River
aku suka
bikin sungai di baju ayah.

--ini lagu untuk anakku River, 4 bulan. Dia suka dengar dan lihat aku main gitar setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Lagu ini aku bikin karena mulai kehabisan stok. Lagu darurat, pake kunci standar C-F-G-Am. Setiap kali aku nyanyikan nadanya tidak pernah sama, berubah melulu.--

Thursday, July 1, 2010

Ketika Kamu Sakit

Akhirnya tahulah aku mengapa engkau disebut buah hati.
Bermula sewaktu kamu kena pilek, dan kami membawamu ke dokter yang di plang tempat prakteknya tertulis "supported by WHO". Dokternya seorang pria, mungkin sepantaranku, baik dan ramah. Diperiksanya sekujur badanmu, dia cek sampai ke cloth diaper-mu. Dan kemudian dia menulis di buku catatan medismu: common cold. Tidak perlu dikasih obat. Nanti akan sembuh sendiri setelah beberapa hari. Itulah mengapa ibumu membawamu ke klinik itu. Karena kami ingin meminimalisir obat-obatan kimia masuk ke dalam tubuhmu.

Pilekmu memang hilang, Nak. Tapi sehari kemudian, tiba-tiba kamu muntah dan badanmu jadi panas. Tigapuluh depalan koma empat derajat, kata termometer. Paniklah ibumu. Demikian pula aku yang mendapat kabar itu ketika sedang berada di kantor. Bergegas aku pulang dan mendapatimu tidak seceria biasanya. Lemas seluruh badanku, Nak. Satu dua lagu yang aku nyanyikan untuk menghiburmu tidak kau gubris. Kau hanya memandangiku dengan lemah seolah-olah aku ini peserta Indonesian Idol yang sebentar lagi dieleminasi.

Kemana River-ku yang bawel dan ceria itu? Dan semakin remuklah jiwaku ketika melihatmu memuntahkan semua air susu yang baru saja kau isap. Aku masih sempat bercanda menghibur diri, menyamakan muntahanmu itu seolah-olah yogurt. Tapi sesungguhnya, Nak, jauh di lubuk hatiku, aku ini seorang ayah yang perasa dan lembut hati. Tak tega aku melihatmu kesakitan begitu.
Lalu semalaman kami berjaga. Apalagi ibumu, tak nyenyak pasti tidurnya. Kamu tak ingin lepas dari dekapannya. Setiap dilepas, secepat itu pula meledak tangismu.

Sehingga tadi siang, kami memutuskan membawamu ke RSIA Kemang Medical Care setelah panasmu tidak juga beranjak dari angka 38. Rumah sakit ini sealiran dengan dokter yang kami kunjungi sebelumnya, juga meminimalisir penggunaan obat. Demam hanya gejala, menurut mereka. Tidak perlu digempur obat penurun panas. Kali ini dokternya, seorang wanita yang potongan rambutnya mirip potongan rambutku, mendiagnosamu terkena gastro, semacam infeksi yang disebabkan oleh virus. Kemungkinan karena kamu mulai belajar memasukkan tangan ke dalam mulutmu.
Dan begitulah, kami meninggalkan rumah sakit yang menurutku lebih mirip hotel itu tanpa sebutir obat pun kami bawa pulang. Hanya kantong yang terasa sedikit lebih ringan...

Di taksi yang membawa kami pulang, kamu mulai tertawa-tawa dan berceloteh meski tak seramai biasanya. Senang sekali kami melihatnya sehingga tak terlalu terasa siksaan lampu merah yang amburadul dan sopir taksi yang seperti baru belajar bawa mobil. Kami senang belaka melihatmu ceria lagi.

Dan sebelum aku lupa, sini aku ceritakan pengalamanku melewati serangkaian sakit. Tentu saja yang bisa aku ingat. Sekitar kelas 4 atau kelas 5 SD, aku pernah kena tipes. Tipes yang lumayan parah sehingga harus bedrest berminggu-minggu di rumah. Yang membuat menakutkan sebenarnya adalah efeknya. Karena menurut selentingan teman-temanku yang kurang ajar, jarang ada orang yang selamat bila kena tipes. Kalaupun sembuh, pasti ada kabel otaknya yang putus atau korslet.
Cerita-cerita itu begitu menakutkannya sehingga aku merasa juga bakal mati. Apalagi setelah seorang tetanggaku yang juga kena tipes akhirnya meninggal dunia. Semakin stress-lah aku.

Tapi waktu dalam keadaan sakit itulah aku merasakan betul-betul cinta kasih orangtua. Aku bisa merasakan betapa takutnya mereka kehilangan kita. Pernah suatu kali, dalam ingatanku yang samar-samar, panasku meninggi. Dalam keadaan setengah sadar, aku melihat bapak dan ibuku berkerumun di dekatku. Ibuku mulai menangis dan bapakku terus berusaha mengajakku berbicara. Aku mengigau.
"Ayo, Nak, kamu mau apa? Bilang saja..." begitu kata bapakku yang aku dengar.
Menurut cerita dari beberapa saksi mata, aku meminta selembar kertas dan pulpen.
Dalam keadaan kalut, bapakku segera memberikan apa yang aku minta.
"Tulislah, Nak, kamu mau apa, nanti Bapak carikan..."
Aku lalu meraih kertas itu dan mulai menulis. Sop Asparagus dan Chiki Stick!
Entah darimana wangsit itu muncul sehingga tertulislah dua permintaan itu. Bisa jadi karena aku sering membaca iklan di Majalah Bobo tentang Chiki Stick yang enak sekali, dan adapun sop asparagus adalah makanan paling enak yang disajikan di salah satu restoran paling mewah di kota kami.

Singkat cerita, akupun sembuh dan kami semua melupakan soal daftar keinginan itu. Chiki Stick dan Sop Asparagus akhirnya tinggal kenangan.

Suatu kehormatan, Nak, bisa merasakan ketakutan-ketakutan seperti itu. Menjadi orangtua adalah hadiah sepaket. Kami akan bahagia oleh tawamu, tapi juga akan sedih karena tangismu. Tak bisa kami memlih salah satunya saja, misalnya yang paling enak.
Menjadi orangtua adalah pengalaman mengasah batin. Tak bisa kuceritakan, Nak, bagaimana rasanya ketika mendengar ibumu mengajakmu berbicara dengan seolah berdoa-doa, "Ya Allah, sembuhkan sakitnya River. Kasih sakitnya ke mamanya saja, Ya Allah..." Dan kamu tersenyum, seolah-olah mengerti.

Dan terbetiklah airmataku, Nak. Mungkin ketika aku sakit bertahun-tahun lampau itu, bapak dan ibuku juga mengucapkan kalimat yang sama. "Ya Allah, sembuhkan sakitnya Fauzan. Kasih sakitnya ke kami saja...."
Mungkin berkali-kali mereka merapal doa itu. Tanpa aku dengar. Tanpa aku sadari.