"Namamu River. Itu sebentuk doa. Agar nanti hidupmu seperti sungai, tahu kemana harus bermuara.


Aku mulai menulis ini ketika kau masih dalam perut ibumu. Duduklah, Nak, karena masih banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu. Ayah yang banyak bicara ini hanya ingin menunjukkan semacam rasa syukur untuk Sang Pemilik Hidup, dan juga ungkapan terima kasih untukmu.

Terima kasih, karena telah lahir melalui kami...."


Monday, April 25, 2011

Norman dan Pak A

Ini mungkin saat yang tepat untuk menuliskannya untukmu, River. Ketika hari terasa mulai berjarak satu sama lain. Minggu-minggu kemarin itu adalah saat yang tak bisa aku bilang landai. Duduk di kursi ini dan menunggu kabar baik atau buruk untuk disampaikan. Penuh was-was dan geregetan.

Suatu hari kamu akan dengar hikayat seorang polisi berpangkat Briptu yang tiba-tiba melejit seperti selebritas. Hanya gara-gara dia muncul di youtube berjoget India, hampir semua media -terutama televisi- tiba-tiba merasa wajib untuk mengangkatnya ke dalam berita seolah-olah itu penting bagi penonton. Iya, itu mungkin memang penting bagi sebagian orang. Setidaknya bagi mereka yang tak percaya bahwa polisi juga bisa joget, tak hanya menembaki orang.
Berhari-hari aku harus memantau dia ada di mana untuk kemudian diteruskan kepada tim liputan yang akan mencegatnya. Selalu ada titipan pertanyaan dari produser. Kadang-kadang tentang hal yang remeh.

Maka, jujur, Nak. Aku termasuk orang yang senang dan bahagia ketika akhirnya Norman, polisi penghibur itu, pulang kembali ke kampung halamannya di Gorontalo. Dia pulang setelah memporakporandakan pemahaman kami tentang batas antara yang penting dan tidak penting. Setidaknya berkurang satu beban. Meski Norman harus sedikit menanggung resiko kesohoran yang sekejap itu --dia tepar kena sakit lambung-- namun bisa dikatakan semua senang. Dan sekarang saatnya beralih ke Briptu yang lain: Briptu Eka Frestya. :-)

Hampir bersamaan dengan peristiwa Briptu Norman itu, sebuah peristiwa lain yang tak kalah hebohnya juga terjadi di Jakarta. Awalnya seorang wakil rakyat dari partai berlandaskan Islam dan kemana-mana mengaku bersih dan peduli, menyisipkan komputer tabletnya ke bawah meja saat sidang paripurna di gedung dewan. Diam-diam beliau menonton video bokep. Sialnya, aksi yang dipikirnya tak terpantau itu malah terekam oleh kamera fotografer Mohammad Irfan dari Media Indonesia. Dan hari-hari apes sang wakil rakyat itu pun bermula. Banyak yang tak percaya. Termasuk aku, Nak, ketika pertama kali mendengar kabar ini dari teman yang sedang bertugas pada hari kejadian itu. Ini PKS soalnya. Tapi kemudian aku mahfum bahwa PKS juga isinya manusia, bukan malaikat. Lagipula, kekuasan dan birahi juga tak begitu jauh lokasinya. Tak tahan menahan kecaman dan kritik, Pak A demikian nama wakil rakyat yang terhormat itu, akhirnya mengundurkan diri.

Inilah yang terjadi di minggu-minggu kemarin itu, Nak. Benar-benar tak bisa kita bilang landai. Briptu Norman hadir untuk menyampaikan pesan bahwa nasib tak ubahnya jalan raya yang tak bisa kita tebak kelokannya. Bermula dari seorang petugas jaga pada sebuah kantor polisi di propinsi baru mekar, Norman pulang sebagai sosok yang dielu-elukan, bertengger di atas kendaraan Barakuda dan melambai kepada khalayak dengan posisi tangan sejajar tubuh persis Putri Indonesia.

Adapun Pak A, Nak, telah memberikan kita pelajaran. Selain bahwa kita tak boleh lagi percaya pada poltisi, kita juga belajar bahwa penampilan itu tak begitu penting, bahwa keimanan itu turun naik sehingga harus selalu dipelihara, disiram seperti tanaman yang kita sayangi.

Tapi yang pasti, Nak, hal-hal sedemikan bukanlah sesuatu yang serta merta asing bagi kita. Itu adalah sesuatu yang karib. Sehingga tak perlu memaki atau mengecam dengan sangat berlebihan. Karena yang membedakan kita dengan Pak A, hanyalah bahwa aib dan kemunafikan kita masih tertutupi. Atas izin-Nya.

No comments:

Post a Comment