"Namamu River. Itu sebentuk doa. Agar nanti hidupmu seperti sungai, tahu kemana harus bermuara.


Aku mulai menulis ini ketika kau masih dalam perut ibumu. Duduklah, Nak, karena masih banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu. Ayah yang banyak bicara ini hanya ingin menunjukkan semacam rasa syukur untuk Sang Pemilik Hidup, dan juga ungkapan terima kasih untukmu.

Terima kasih, karena telah lahir melalui kami...."


Monday, December 19, 2011

Tentara Amerika dan Pengusaha Ayam Potong

River, tadi malam di jalan tol, mobil travel yang aku tumpangi sempat beriringan dengan truk yang membawa ayam pedaging siap potong. Mereka tampak sehat, gemuk dan kalem. Aku duduk dekat jendela dan bisa melihat bulu-bulu halus ayam-ayam itu beterbangan, sesekali berkilau kena sinar lampu.

Aku sempat lama memperhatikannya karena kendaraan tak bisa bergerak cepat akibat jalanan yang lumayan padat. Orang-orang banyak yang ingin segera pulang ke Jakarta karena besoknya sudah harus bekerja lagi. Seperti aku.

Tiba-tiba terpikir, ah bagaimana rasanya menjadi ayam-ayam itu, dipisahkan dari orangtuanya atau anak-anaknya. Membayangkan diriku sebagai ayam itu cukup membuat nelangsa juga. Terkurung kehilangan kuasa.

Jean-Marc Bouju, seorang fotografer Perancis yang bekerja untuk The Associated Press, pernah mendokumentasikan sebuah peristiwa yang bisa membuat hati ayah mana pun meleleh. Aku sendiri melihatnya di sebuah pamflet undangan World Press Photo.


Di sebuah penjara di base camp US Army 101st Airborne Division dekat Najaf, seorang pria warga Irak tampak berusaha menenangkan anaknya yang berumur 4 tahun. Bocah itu sangat ketakutan, dan ayah yang tak berdaya itu --dengan kepala yang ditutupi plastik-- tetap berusaha melindungi dan menenangkan anaknya, betapa pun hidupnya sendiri tak jelas nasibnya.

Gambar ini diambil sekitar akhir Maret 2003, dan hingga minggu lalu, saat Obama mengumumkan penarikan seluruh tentara Amerika dari Irak, tak ada lagi yang tahu bagaimana nasib ayah dan anak ini.

Nak, inilah hidup, kita selalu berjuang untuk tetap bersama, tapi Tuhan juga menghadirkan tentara Amerika atau pengusaha ayam potong. Semata-mata agar kita belajar tangguh.

Aku ingat, di rumah, betapa sering kita biarkan semut berkeliaran di lantai. Setiap kali kamu berusaha untuk menjepit atau menekannya, ibumu sigap melarang, "Jangan, Nak, itu ayah semut sedang cari makan."
Iya, Nak, semut-semut itu pun ada yang menunggunya pulang. Tapi berapa kali tanpa kita sadari, semut-semut itu terinjak dan tidak bisa pulang.

Siapa yang harus disalahkan?

Kita muslim yang selalu berusaha kaffah, Nak. Insya Allah. Namun dengan segala hormat, izinkan aku kutipkan untukmu sepotong doa yang pernah diucapkan oleh Reinhold Niebuhr, seorang teolog Protestan:
"Tuhan, berilah aku kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa aku ubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan keduanya."

Demikian, Nak. Barakallah...

photo by Jean-Marc Boujo. Source: http://theroxor.com/2011/09/14/touching-war-photography

Wednesday, December 14, 2011

Dia yang Kau Panggil Mama

River, hari ini ada yang berulangtahun. Aku tak bisa kasih hadiah apa-apa. Pun malam ini, aku tak bisa mengelola bahkan semacam makan malam romantis yang sederhana saja. Aku ini memang bukan orang romantis. Bila pakai skala 1 sampai 10, skala romantismeku sekitar minus 3. Kadang-kadang minus 5 tergantung cuaca.

Usianya semakin bertambah kini. Banyak tahun telah dilewatinya, dan tidak semuanya mudah. Dulu, sebelum kami bersama, aku sering menemukannya menangis bila dia terkenang ayahnya. Lalu aku datang dan berlagak bisa menemani kesedihannya. Dan setelah itu kau bisa tebak apa yang terjadi. Inilah faedah perpaduan ilmu dari Kitab Mari Bergaul dan jurus Buaya #3.

Ini ulang tahun ketiga dia bersamaku. Di ulangtahunnya yang lewat, tak satu pun benda berharga yang pernah aku hadiahkan padanya. Karena aku tak menghadiahkan benda melainkan diriku untuk berkhidmat kepadanya. Meski aku mahfum bahwa aku adalah hadiah yang tak paripurna, semacam paket yang bungkusnya koyak oleh keteledoran kurir jasa titipan kilat. Aku adalah paket hadiah yang ringkih, mudah patah, dan gampang meledak. Tapi tetap diterimanya dengan baik, walau dia tahu bahwa dia berhak untuk sesuatu yang lebih baik.

Dan dengan itu dia mengukuhkan dirinya sebagai perempuan. Perempuan yang berani menemani kegelisahan dan ketakutan lelaki di sampingnya. Seperti Khadijah yang menyelimuti Muhammad ketika Sang Nabi datang dengan gemetar.

Nak, hari ini ada yang berulang tahun. Aku merasa beruntung kita semua masih terjaga di peralihan hari dini hari tadi. Sehingga aku dan kamu bisa kasih ciuman di pipi untuk dia.
Perempuan itu. Perempuan yang kau panggil Mama. Seperti ulangtahunnya yang kemarin-kemarin, aku hanya bisa kasih selarik doa. Semoga dia menjadi lebih bahagia dengan adanya kita di hidupnya.

Sunday, December 11, 2011

Sisa Senyum

Sedikit pun aku tak menyangka dia akan melakukan itu. Memang tidak terlalu sering kami bersinggungan pekerjaan, tapi kami cukup saling kenal. Beberapa kali dia menjadi imam shalat. Anak ini memang shalatnya rajin, selalu di awal waktu. Pernah hanya ada kami berdua di mushalla dan kami berebutan untuk menjadi makmum. Aku menang setelah bilang, "yang muda saja yang jadi imam, dosanya lebih sedikit."

Terakhir kami masih sempat berpapasan di selasar kantor, di antara kubikal. Aku menepuk pundaknya. Dia hanya menyunggingkan senyum kecil, mungkin sisa-sisa dari yang masih bisa dia simpan.

Minggu lalu, pemimpin tertinggi lantai 3 sudah mengumumkan bahwa dia --kawan yang aku ceritakan ini-- bukan lagi bagian dari lantai 3. Dia sudah memilih jalannya. Selentingan pun beterbangan seperti bulu-bulu burung. Pada umumnya memperbincangkan jumlah. ada yang bilang jutaan, ada juga yang bilang puluhan juta. Seorang teman bahkan menduga jumlahnya bisa mencapai ratusan juta mengingat betapa lamanya dia telah beroperasi.

Seingatku ini kasus pemecatan ketiga di kantor ini. Yang pertama karena ketahuan menerima amplop dari narasumber, yang kedua karena main cewek lalu ketahuan istrinya dan istrinya lapor ke kantor, dan yang ketiga ini.
Begitulah caranya pergi, meninggalkan kenangan bagi kami, sebagai koruptor.

Aku selalu merasa mau muntah setiap mendengar kata korupsi atau koruptor. Bukan karena apa, tapi karena jangan-jangan aku juga bagian dari itu --secara sadar atau pun tidak.

Baru setelah kamu lahir ini saja, Nak, aku mulai mengetatkan lagi batas-batas. Seperti orangtuaku dulu menjaga kami dari makanan haram, begitupun aku ingin melakukannya kepadamu. Tapi ini seperti menegakkan benang basah, kalau kata orang Melayu.
Aku pernah tanya ke ibuku, bagaimana cara mencegah barang haram masuk ke harta kita. Jawabannya sederhana, selama bukan hak kita ya jangan diambil. Soal yang bagaimana yang termasuk hak kita, ibuku pernah kasih contoh. Misalnya kalau sedang berbelanja di pasar, sebagai pembeli kita punya hak untuk menawar sebanyak 3 kali. Jika pedagangnya tidak memberi sampai sejauh itu, maka tinggalkan. Karena bisa jadi setelah itu sudah meragukan halal-haramnya. Aku juga tidak tahu dari mana angka 3 itu didapat. Tapi menurut dugaanku itu angka batas toleransi keikhlasan seorang pedagang yang dagangannya ditawar.

Ibuku mengajarkan hal-hal kecil semacam itu, tapi kamu akan tahu, Nak, betapa sulitnya menerapkannya. Mungkin takaran kita soal hak yang menjadi titik masalahnya.
Sebutlah yang ringan-ringan macam main facebook di jam kerja atau yang agak berat macam bikin bon bensin palsu kalau lagi dinas luar kota. Jujur itu pernah aku lakukan. Mungkin karena aku berpikir itu hak-ku untuk mendapat sedikit kesenangan atau itu hak-ku untuk terhindar dari tekor. Sehingga pembelaan diriku mengatakan bahwa aku bukan koruptor padahal iya.

Masing-masing orang mungkin punya mekanisme sendiri untuk menjaga kewibawaan dirinya agar senantiasa merasa bersih. Aku dulu punya teman pegawai kantor pajak. Dia relatif lurus, tapi di meja-nya dia punya dua laci. Satu laci yang berisi duit bersih dan satunya lagi menurut dia disediakan untuk duit yang syubhat atau meragukan. Duit yang meragukan itu tidak pernah dia bawa pulang, tapi disumbangkan atau dihabiskan selain untuk makanan. Boleh juga idenya, tapi tak ada jaminan juga itu bisa menyelamatkan.

Aku boleh bersyukur karena pekerjaanku saat ini lebih banyak berkutat di kantor sehingga tak perlu sering berurusan dengan biaya perjalanan dinas, UPM, BMA, auditor dan lain-lain. Tapi kadang aku suka kasihan sama teman-teman yang masih harus berurusan dengan hal macam ini, mereka tentu pusing meracik nota dan bon agar neraca seimbang tanpa merugikan siapa pun. Tidak mudah memang. Waktu zamanku masih sering bepergian pakai biaya kantor, aku pernah bawa uang yang nilainya bisa mencapai 20 kali gaji. Cukup menggiurkan seandainya kita tidak kuat iman.


Tapi seperti yang aku bilang tadi, Nak, setelah kamu lahir, kami berusaha menjaga sumber-sumber pendapatan kami sebersih mungkin. Beberapa kali dinas luar kota sejak itu, uang saku tak pernah lagi utuh seperti biasanya. Selalu habis untuk menutupi biaya-biaya yang tak ada pos dananya. Seringnya malah pulang tekor. Takut aku, Nak, bawa pulang uang yang bau bensin atau solar. Yang lalu sudahlah berlalu. Semoga Allah mengampuni.
Ibumu juga kalau jualan online dan ada customer yang protes karena barangnya tidak sesuai bayangan mereka, aku suruh balikin saja uangnya. Barangnya terserah mereka mau balikin atau tidak. Seperti pedagang yang kita tawar berkali-kali di cerita ibuku itu, takutnya uang yang kita peroleh itu tidak berkah karena customer tidak ikhlas.

Pernah aku bertanya kepada orang yang aku anggap ulama, bagaimana menangani sumber mata pencaharian yang kita tidak yakin halal-haramnya, mengingat betapa silang-sengkarutnya dunia saat ini. Tinggalkan, kata ulama itu. Terus terang, kita tidak selalu kuat untuk hal beginian. Kita bukan orang alim yang memadamkan lentera fasilitas negara ketika sedang berbincang urusan pribadi. Akhirnya dengan ilmu dan pemahaman yang semata kaki, kita berkompromi di wilayah ruksah (hukum darurat), seperti halnya kita masih tetap berurusan dengan bank konvensional ketika banyak ulama yang bersepakat bahwa itu riba.

Dua hari lalu, Nak, aku dan ibumu membawamu ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kita mau menonton band The Panasdalam yang sedang bernyanyi di sana dalam rangka memeriahkan hari anti korupsi sedunia. Aku dan ibumu sudah lama juga tidak main ke gedung itu. Ibumu ketemu beberapa teman yang mungkin dikenalnya waktu masih jadi reporter dulu. Sedang aku tidak mengenal siapa-siapa lagi. Cuma sempat ketemu Kang Pidi, imam besar The Panasdalam Serikat --yang katanya datang untuk baca doa-- dan Alga, sang vokalis yang teriak-teriak di atas panggung, "Nggak mungkin memberantas korupsi pakai kesenian!"

KPK sedang diuji gede-gedean saat ini. Ketuanya baru ganti dan telah disambut kasus-kasus besar yang selama ini seperti tersandera kepentingan politik. Abraham Samad baru saja terpilih. Banyak yang berharap padanya, termasuk aku. Sepak terjang Abraham Samad sudah sering aku dengar sejak masih di Makassar. Setahuku beliau terkenal berani dan lantang bersuara. Reputasi beliau dalam hal perlawanan terhadap korupsi di Makassar cukup membanggakan. Kalau tidak salah, dia juga yang mengungkap kasus rasuah pengadaan mobil pemadam kebakaran yang akhirnya menyeret seorang mantan walikota ke penjara.

Mari kita doakan semoga beliau tetap bersih dan berani, seperti halnya kita tak putus-putusnya mendoakan diri sendiri, kadang dengan air mata yang menggenangi bulu mata karena saking tak mampunya kita untuk sekadar melawan hawa nafsu.

Pak Abraham Samad menangani yang besar-besar, kita yang super-mikro. Pak Abraham dan pimpinan KPK lainnya bekerja keras untuk menyelamatkan kehidupan 200 juta lebih penduduk Indonesia dari kemaruknya segelintir orang pemakan pajak, aspal, dan besi beton.

Dan aku juga berjanji akan bekerja keras, Nak, agar suatu hari nanti tak perlu ada teman kantor yang menepuk pundakku saat berpapasan di selasar atau di antara kubikal, dan aku hanya bisa menyunggingkan senyum kecil, mungkin sisa-sisa dari yang masih bisa aku simpan.

Tuesday, December 6, 2011

Ayah yang Tak Pernah Keren

Polantas Makassar
Usiaku masih sangat muda ketika aku mulai dirundung rasa cemburu. Bukan pada apa-apa, tapi pada teman-temanku yang sudah mengendarai sepeda motor.
Dua belas tahun. Kelas satu di Sekolah Menengah Pertama. Belum bisa kencing lurus.
Dan aku hanya bisa menatap mereka penuh harap dengan mimpi yang mengawang-awang. Sebutlah nama kawanku ini Abu, dia adalah remaja pertama di kampung kami yang bisa membeli Suzuki Crystal, motor paling keren saat itu. Mesin 100 cc dengan knalpot racing yang dibuat melingkar di bawah setang. Suara mesinnya melengking seperti beruang bangun pagi. Abu teman SD-ku. Dulu sering aku pinjam sepedanya, tapi sekarang tak mungkin aku pinjam motornya. Menurutku dia tak akan keberatan bila aku pinjam, tapi aku sendiri tidak bisa mengendarainya.

Kata bapakku, anak SMP belum boleh pakai motor. Dilarang Pak Polisi. Kalau sudah 16 tahun baru boleh, karena sudah punya Surat Izin Mengemudi. Wah, itu artinya harus menunggu setidaknya sampai kelas 2 SMA. Masih lama.
Tapi kenapa temanku itu bisa naik motor ke sekolah? Tanyaku heran. Setahuku bapak temanku ini bukan polisi. Apa dia tidak takut ditilang?
Bapakku tak bisa jawab.

Sebenarnya bisa saja Bapak membeli sepeda motor untukku. Saat itu ekonomi keluarga sedang bagus. Bapak bahkan bisa beli mobil Mitsubhisi colt.
"Naik sepeda dulu saja ya," kata bapakku menghibur. "Nanti bisa boncengan sama kakakmu."
Ah, sepeda mana keren! Batinku membantah. Tapi aku tak berani menolak terang-terangan. Untuk anak SMP, sepeda juga bolehlah.
Jadilah akhirnya aku punya sepeda merk Golden yang ternyata ketika stiker panace body-nya lepas tiba-tiba berubah jadi Oyama.

Tapi semakin hari, semakin banyak temanku yang ke sekolah naik sepeda motor. Keadaan ini cukup membuat galau. Setiap pagi setibanya di halaman sekolah dadaku bergejolak. Campuran antara rasa iri yang buncah dan napas ngos-ngosan karena mengayuh sepeda jauh-jauh. Motor-motor mereka digabung di tempat parkir yang sama dengan sepeda-sepeda kami, dan semakin hari kami para pesepeda semakin tersingkir. Lahan parkir kami semakin sempit.

Mengobati kemarahanku, aku akhirnya menerima ajakan untuk bergabung dengan PKS. Ini bukan nama partai. Saat itu PKS yang partai belum lahir, partai masih tiga biji dan selalu dimenangkan Golkar. PKS ini adalah singkatan Patroli Keamanan Sekolah. PKS ini semacam polisi-polisi cilik. Anggotanya anak kelas 1 dan 2. Bekerja sama dengan OSIS, kami direkrut oleh Pak Polisi betulan dan diajari ilmu lalu lintas. Seingatku, dulu setidaknya tiga sekali seminggu aku datang ke kantor polisi pada sore hari untuk belajar rambu-rambu dan isyarat-isyarat lalu lintas. Supaya keren, kami dilengkapi dengan lencana, handband garis-garis, peluit dan selempang. Komandanku dulu --kalau tidak salah-- namanya Aidil, anak kelas 1C. Dia terpilih karena paling tinggi dan ganteng.


Bergabung dengan PKS cukup menghibur hatiku. Aku merasa lebih percaya diri. Setiap hari, aku selalu datang lebih pagi untuk melaksanakan salah satu tugas mulia kami, yaitu menyeberangkan teman-teman. Aku suka menyeberangkan teman-temanku, apalagi yang cewek. Dengan kekuasaan yang dipercayakan kepada kami, kami bisa menyuruh semua kendaraan berhenti supaya teman-teman kami bisa menyeberang jalan dengan selamat. Aku juga senang meniup sempritan dan menyuruh teman-temanku yang mengendarai motor untuk berhenti di garis yang kami tetapkan. Senang rasanya melihat mereka mematuhi perintahku.

Itu kejadian waktu aku SMP.
Menginjak bangku SMA, sepeda motor bukan lagi hal yang mewah –bagi teman-temanku. Adapun aku, masih tetap dengan sepeda kayuh yang sudah berganti merek menjadi Federal. Rasanya tak tertahankan lagi keinginan untuk mengendarai sepeda motor. Aku sangat mengidamkan sepeda motor RX-King hitam. Kata temanku, itu motor rampok. Perampok paling sering pakai motor itu karena tenaganya kuat dan tak terkejar. Tapi aku tak terpengaruh, bagiku itu adalah motor paling hebat.

Tapi tetap saja tak bisa aku miliki. Setahun menjelang usiaku boleh punya SIM, keluarga kami mengalami "malaise". Badai ekonomi sedang lucu-lucunya. Orangtuaku dengan terus terang bilang tak mampu membelikan aku motor. Alamak, padahal inilah masanya pengendara motor berjaya. Teman-temanku yang punya motor hampir setiap sore bertemu di alun-alun untuk mengebut di jalan-jalan kota. Dan pada malam hari mereka dikerubuti gadis-gadis.

Aku terpuruk dalam kesedihan berkepanjangan. Anehnya, tak lama setelah itu, aku tak berminat lagi untuk punya motor.
Seingatku ini gara-gara sebuah cerita:
Ada seorang anak muda, sebutlah namanya Roxy. Usianya baru 15 tahun ketika ia tergila-gila pada motor RGR, motor sport paling baru saat itu. Keluarga Roxy termasuk berkecukupan, ayahnya punya toko kelontong. Meski demikian, saat Roxy meminta dibelikan motor itu, ayahnya merasa cukup berat. Tapi karena Roxy anak laki-laki satu-satunya, maka setelah menabung cukup lama, terbelilah motor itu atas nama rasa sayang.

Motor itu sontak membuat Roxy menjadi anak paling populer di sekolah. Setiap sore, meski belum punya SIM, dia suka mengebut di pusat kota dengan geng motornya. Bila Roxy melaju, dari jauh suara motornya sudah bisa kedengaran. 150 cc, Boy!

Tiba-tiba pesta harus berakhir. Roxy harus turun panggung. Suatu malam, saat berkumpul bersama teman-temannya di taman kota, motor kebanggaannya itu moksa dari tempat parkir, hilang dicuri orang.

Roxy sedih bukan main. Apalagi ayahnya.
"Mungkin memang sebaiknya kamu tidak punya motor dulu," kata ayahnya, mencoba menenangkan. Namun Roxy tetaplah anak kesayangan orangtuanya. Orangtuanya tak ingin melihat Roxy bersedih terlalu lama. Kira-kira hanya berselang dua bulan dari peristiwa hilangnya RGR itu, Roxy sudah mendapatkan gantinya. Motor baru yang persis sama dengan miliknya yang hilang.

Mendapatkan motor baru itu, Roxy menemukan dunianya lagi. Dia kembali menjadi raja jalanan. Kali ini dia malah semakin menjadi-jadi. Roxy sudah berani adu balapan dengan bertaruh uang. Dengan motor keluaran terbaru, Roxy tak punya banyak lawan. Hampir semua adu balapan dimenangkannya. Hingga kemudian keriaannya kembali terhenti.
Dalam sebuah adu balap liar tengah malam, tiba-tiba seperti ada petugas ronda yang menggedor tiang listrik dengan sangat bernafsu. Rupanya Roxy yang menabrak besi pendiam tak bersalah itu setelah sebelumnya bersenggolan dengan lawannya.
Lawannya, anak muda seusia dia juga, tewas dengan motor remuk tak berbentuk. Roxy masih selamat. Sekitar 3 minggu kemudian, Roxy sudah bisa meninggalkan rumah sakit.

"Saat motor pertamaku hilang dan ayahku bilang, 'mungkin memang sebaiknya kamu tidak punya motor dulu', seharusnya saya mengerti apa yang dia maksud. Itu peringatan. Dan mungkin ini maksudnya...."
Kata Roxy sambil memegangi dadanya yang sudah dipasangi lempengan pin besi dan menatap nanar ke kaki sebelah kirinya yang diamputasi sebatas lutut.

===

Begitulah aku ceritakan kembali kisah ini kepadamu. Seperti aku yang akhirnya bisa memahami kenapa aku tak pernah punya motor ketika remaja dulu --dan tak menjadi keren karena itu, mudah-mudahan kau pun sama memahami. Bahwa rasa sayang itu, Nak, kadang mencelakakan.

Thursday, December 1, 2011

Nachtwey

"I have been a witness,
and these pictures are my testimony.
The events I have recorded
should not be forgotten and must not be repeated."
-James Nachtwey-


World Press Photo Award yang dianugerahkan padanya pada tahun 1994 semakin menasbihkan James Nachtwey sebagai seorang jurnalis foto terbaik di dunia.
James Nachtwey lahir pada tahun 1948, sedikit lebih muda dibanding bapakku. Nachtwey tumbuh besar di Massachusetts dan belajar Art History and Political Science di Dartmouth College sepanjang tahun 1966 hingga 1970.

Tahun 1976, setelah bekerja serabutan sebagai magang editor film dan supir truk, Nachtwey mulai bekerja sebagai fotografer pada koran Albuquerque Journal di New Mexico. Tahun 1980, Nachtwey hijrah ke New York dan memulai karir sebagai fotografer freelance. Penugasan pertamanya adalah meliput pergolakan sipil di Irlandia Utara pada tahun 1981.

Setelah itu, Nachtwey hadir hampir di semua peristiwa besar di seluruh dunia. Nachtwey mendokumentasikan konflik senjata mulai dari Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, hingga Rusia.

Nachtwey sudah menyaksikan banyak. Saat jurnalis Ken Oosterbroek tewas terbunuh dalam tugas liputan pemilu non-rasial pertama Afrika Selatan tahun 1994, Nachtwey ada di tempat yang sama. Nachtwey memotret Perang Teluk, Bosnia, Kosovo, hingga Afganistan. Di Indonesia, Nachtwey mengabadikan kerusuhan sosial pasca kejatuhan Soeharto pada tahun 1998. Seri fotonya dalam kerusuhan di Jalan Ketapang bahkan menjadi bagian dari the truly shocking photos, di mana dia merekam gambar seorang yang dipenggal lehernya, dalam jarak yang sangat dekat.

Di Indonesia, Nachtwey tak hanya memotret disharmoni tapi juga harmoni. Seperti saat ia memotret seorang bocah perempuan di antara jemaah shalat Idul Adha di komunitas Annadzir di Gowa, Sulawesi Selatan. Foto ini ia buat untuk Majalah National Geographic edisi September 2009.


Nak, aku pertama kali bertemu Nachtwey pada awal tahun 2005, saat kami sama-sama berteduh di tenda darurat milik PMI di Meulaboh.
"Mr. Nachtwey?" Aku menyapa dengan girang, tak menyangka bisa bertemu orang sekaliber dia di tempat seperti ini.
Dia hanya tersenyum sambil tetap melindungi kamera Canon-nya dari tempias air hujan.
"Just call me James," katanya.
Pertemuan itu tidak lama, karena begitu hujan reda kami harus bergerak mengikuti penugasan masing-masing. Nachtwey, seperti biasa, bergerak sendirian. Kemana-mana dia memang lebih sering sendirian, paling sering dia menyewa tukang ojek. Dia tidak senang bergerak berombongan. Kata seorang fotografer senior, bekerja soliter adalah salah satu cara Nachtwey untuk mengatasi kesedihannya atas semua peristiwa buruk yang pernah dilihatnya. Dengan itu Nachtwey merayakan kemarahan dan rasa frustrasinya.

Dalam sebuah wawancara dia pernah bilang, "Salah satu yang harus saya pelajari sebagai seorang jurnalis adalah apa yang yang harus saya lakukan dengan perasaan marah yang muncul dalam diri saya. Saya harus memanfaatkannya, menyalurkan energinya supaya bisa memperjelas visi saya dan tidak membuatnya semakin keruh..."

Di Bali sekitar tahun 2007, aku kembali bertemu Nachtwey. Kami sama-sama meliput prosesi Ngaben salah seorang kerabat Kerajaan Ubud. Berbaur di antara ribuan turis, nyaris tak ada yang mengenalnya. Sekali lagi, Nachtwey menunjukkan betapa dia seolah bergerak dengan senyap. Seorang turis tampak keheranan saat melihat puluhan wartawan terdistraksi ketika menyadari Nachtwey ada di tengah-tengah mereka. "Who's that guy?" katanya heran.



Christian Frei, seorang sutradara film dokumenter, membuat film dokumenter tentang James Nachtwey. Judulnya "War Photographer". Perasaan dulu aku punya DVD-nya, tapi kemarin dicari-cari tidak ketemu. Baiklah nanti kita cari lagi ya, Nak. Mungkin masih ada bajakannya di Ambasador.
Di pembukaan film, Christian Frei menyebut Nachtwey sebagai perwujudan pernyataan Robert Capa, seorang legenda jurnalis foto.
"If your photos aren’t good enough, you are not close enough".
Itulah Nachtwey, Nak.

Beberapa hari ini, adagium itu terngiang-ngiang lagi di pikiranku. Kalau fotomu kurang bagus, berati kamu kurang dekat.
Nak, ayahmu ini hanya seorang wartawan kapiran yang janganlah sampai kau bandingkan dengan Nachtwey. Aku ini hanya mencoba belajar dari orang-orang hebat yang pernah aku temui. Dan dengan begini juga mungkin kamu bisa mengambil celah hikmah.
Ini memang bukan soal foto, Nak. Beberapa minggu belakangan ini, banyak kerjaanku yang mentok dan hasilnya tak kelihatan. Sudah mencoba tabah tapi kok jadi kepikiran juga. Sementara target sudah membayang-bayang di depan mata.

Hingga akhirnya sampailah aku pada kesimpulan. Hasil pekerjaanku tak bagus, berarti aku masih belum cukup keras berusaha.

Inilah kenapa aku ceritakan tentang Nachtwey padamu.

--semua foto kecuali foto paling atas dan bawah adalah karya James Nachtwey dari www.jamesnachtwey.com dan National Geographic. Foto paling atas adalah foto still dari film War Photografer by Christian Frei. Foto paling bawah dijepret oleh Haris Fadilla.